Aku hidup dari bahagianya,
Aku terbit dari senyumnya
Aku terlelap dai tidurnya...
Dia merangkul perihku
dan menjadikannya warna pelangi...
Membendung air mataku
dengan tirai mentari,
Dia memberiku hati
untuk di beli....
04.07.10
18.40
Rabu, 27 Oktober 2010
Tidak dimengerti
Bukan pagi yang ku beli
Malam datang tanpa henti,
Jiwa pergi untuk mengisi
Raga renta menunggu mati.......
04.07.10
Malam datang tanpa henti,
Jiwa pergi untuk mengisi
Raga renta menunggu mati.......
04.07.10
Luka yang sempurna
Aku melukiskan
Keindahan dalam diriku
Semakin mewujudkan dirimu
Jauh dari kesempurnaan..
Lalu kau menangis
Seperti hatimu tertusuk pisau tajam
Lihat aku !
Duduk di antara keruntuhan
Tenang...
Menatap kekosongn masa depan
Mengenang kekelaman masa lalu
Seberapa indah luka ini..
Aku selalu ingat
Aku masih melihat jelas rupanya
Sangat sempurna
27.0.10
03.15
Keindahan dalam diriku
Semakin mewujudkan dirimu
Jauh dari kesempurnaan..
Lalu kau menangis
Seperti hatimu tertusuk pisau tajam
Lihat aku !
Duduk di antara keruntuhan
Tenang...
Menatap kekosongn masa depan
Mengenang kekelaman masa lalu
Seberapa indah luka ini..
Aku selalu ingat
Aku masih melihat jelas rupanya
Sangat sempurna
27.0.10
03.15
Hanya aku
Aku lelah..
Aku muak dengan semua ini
Aku ingin terjun ke jurang terdalam
Aku ingin hanya aku yang tahu
Seluruh tubuhku menggigil
dalam kehangatan...
hingga menciptakan dunia dalam dunia
seperti terlahir kembali
Tapi kemudian tak diijinkan masuk ke dalam dunia
yang kau sebut duniamu...
Tersesat dan kesakitan
Aku teriak,
Aku tertawa,
Hanya aku
30.05.10
Aku muak dengan semua ini
Aku ingin terjun ke jurang terdalam
Aku ingin hanya aku yang tahu
Seluruh tubuhku menggigil
dalam kehangatan...
hingga menciptakan dunia dalam dunia
seperti terlahir kembali
Tapi kemudian tak diijinkan masuk ke dalam dunia
yang kau sebut duniamu...
Tersesat dan kesakitan
Aku teriak,
Aku tertawa,
Hanya aku
30.05.10
Periang Perihku
Perihnya datang
di antara binar-binar harapan
Merasuki pikiranku
dengan keindahan palsu
Kau adalah lelakiku..
Meski raga habis dimakan usia,
Hati terkikis oleh lara
Kau tetap saja,
Periang riakku
09.07.10
06.30
di antara binar-binar harapan
Merasuki pikiranku
dengan keindahan palsu
Kau adalah lelakiku..
Meski raga habis dimakan usia,
Hati terkikis oleh lara
Kau tetap saja,
Periang riakku
09.07.10
06.30
Selalu begitu
Otakku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan
Kenapa ?
Setiap detik pertemuan menjadi nada-nada sumbang
yang bergema di ruang hati kita
Jantungku berdebar hebat,
Keakutan itu muncul
Di antara embun yang membasahi mata kita
Aku selalu berharap ini mimpi,
Ini hanya khayalan
Kenapa hari-hariku tidak mudah,,, ?
09.07.10
18.14
Kenapa ?
Setiap detik pertemuan menjadi nada-nada sumbang
yang bergema di ruang hati kita
Jantungku berdebar hebat,
Keakutan itu muncul
Di antara embun yang membasahi mata kita
Aku selalu berharap ini mimpi,
Ini hanya khayalan
Kenapa hari-hariku tidak mudah,,, ?
09.07.10
18.14
Aku ini apa
Aku yang lahir dari rahim-rahim mreka
yang busuk oleh cinta...
Setiap jengkal tubuhku
dibuat oleh tangan-tangan kotor
Dan jiwanya,
selalu haus oleh kenikmatan
Aku punya siapa ?
Manusia-manusia itu,
malaikat-malaikat itu,
setan-setan itu ?
Mereka tahu
Tidak ada yang tahu..
05.07.10
09.30
yang busuk oleh cinta...
Setiap jengkal tubuhku
dibuat oleh tangan-tangan kotor
Dan jiwanya,
selalu haus oleh kenikmatan
Aku punya siapa ?
Manusia-manusia itu,
malaikat-malaikat itu,
setan-setan itu ?
Mereka tahu
Tidak ada yang tahu..
05.07.10
09.30
Kamis, 21 Oktober 2010
Palsu
Apa yang tersembunyi
di balik wajah bening mereka
Terpesona akan keindahan sesama
Tertawa di antara serpihan lara,
Aku terbaur dalam wajah-wajah itu
Aku meraupkannya dengan kesenangan semesta
Mereka memelukku..
Dan meminjam hati Tuhan
Untuk mencintaiku
10.07.10
17.10
di balik wajah bening mereka
Terpesona akan keindahan sesama
Tertawa di antara serpihan lara,
Aku terbaur dalam wajah-wajah itu
Aku meraupkannya dengan kesenangan semesta
Mereka memelukku..
Dan meminjam hati Tuhan
Untuk mencintaiku
10.07.10
17.10
Siapa tahu
Aku tenggelam sendiri
Merintih dalam luka
yang kuciptakan sendiri
Aku tidak tahu
Kemana angin membawaku pergi
Aku hanya menangis
Dan hanya itu yang aku tahu
sejauh ini..
10.07.05
17.02
Merintih dalam luka
yang kuciptakan sendiri
Aku tidak tahu
Kemana angin membawaku pergi
Aku hanya menangis
Dan hanya itu yang aku tahu
sejauh ini..
10.07.05
17.02
Bayang
Wajahku bukan lagi yang merenda malam mu
Hatiku tertambat pada kesunyian lalu
Aku ditelanjangi oleh pikiran-pikiranmu
10.07.10
Hatiku tertambat pada kesunyian lalu
Aku ditelanjangi oleh pikiran-pikiranmu
10.07.10
Terserah
Pada mawar dan melati,
Sunyiku tetap saja diam
Tak pernah aku peduli,
Dia datang atau hilang
10.07.10
Sunyiku tetap saja diam
Tak pernah aku peduli,
Dia datang atau hilang
10.07.10
Diam
Aku mencintai hal-hal yang ku anggap
kelemahan
Menjadikannya tameng
Membuatku tidak harus melakukan sesuatu
Aku bebas dari pengkerdilan karakter
Tapi aku bodoh
Dan akan terus dianggap seperti itu
Mereka bersuara
Aku diam saja
Mereka tertawa
Aku diam saja
Telingaku mendengar riuhnya
Mataku melihat betapa gagahnya
Bibirku,
Diam saja
kelemahan
Menjadikannya tameng
Membuatku tidak harus melakukan sesuatu
Aku bebas dari pengkerdilan karakter
Tapi aku bodoh
Dan akan terus dianggap seperti itu
Mereka bersuara
Aku diam saja
Mereka tertawa
Aku diam saja
Telingaku mendengar riuhnya
Mataku melihat betapa gagahnya
Bibirku,
Diam saja
Topeng
Bagaimana rasanya
Ketika pembicaraan-pembicaraan tentang hati
Tak terjadi lagi diantara kalian ?
Pertengkaran datang silih berganti
Tanpa awal, tanpa akhir
Ketika jalinan itu tak lagi selekat jemari
Tak lagi saling mengerti
Apa yang sedang dipikirkannya tentangmu ?
Apa yang sesungguhnya menyelimuti matanya
yang seakan buta karenamu ?
Kau selalu bertanya. Selalu tentang
pertanyaan yang sama
Kenapa ?
Kesulitan-kesulitan itu datang
Mengurungmu dalam satu ruang yang gelap
Hingga matamu meredup dari segala hal
Kau terus tenggelam,terus terpejam
Aku hanya bayangan, hanya serpihan
Kau bukan kesalahan
Kalian adalah topeng
Ketika pembicaraan-pembicaraan tentang hati
Tak terjadi lagi diantara kalian ?
Pertengkaran datang silih berganti
Tanpa awal, tanpa akhir
Ketika jalinan itu tak lagi selekat jemari
Tak lagi saling mengerti
Apa yang sedang dipikirkannya tentangmu ?
Apa yang sesungguhnya menyelimuti matanya
yang seakan buta karenamu ?
Kau selalu bertanya. Selalu tentang
pertanyaan yang sama
Kenapa ?
Kesulitan-kesulitan itu datang
Mengurungmu dalam satu ruang yang gelap
Hingga matamu meredup dari segala hal
Kau terus tenggelam,terus terpejam
Aku hanya bayangan, hanya serpihan
Kau bukan kesalahan
Kalian adalah topeng
Rabu, 06 Oktober 2010
Riak
Ketika fajar memeluk dalam kedinginan
Seluruh raga menjerit, merintih
Kebahagiaan direnggut
dari setiap jiwa yang lahir
Seperti hujan rintik
tangis itu...
Jatuh di antara keheningan mata
Rasakan setiap sentuhannya
menggetarkan nadimu
Bukan hitam dan putih
yang teraba
Adalah senja di malam purnama
Ada riak
di kolamku
08.06.10
Seluruh raga menjerit, merintih
Kebahagiaan direnggut
dari setiap jiwa yang lahir
Seperti hujan rintik
tangis itu...
Jatuh di antara keheningan mata
Rasakan setiap sentuhannya
menggetarkan nadimu
Bukan hitam dan putih
yang teraba
Adalah senja di malam purnama
Ada riak
di kolamku
08.06.10
Erika, Di Persimpangan Trisula
Aku sebagai Erika
Saat pertama di persimpangan Trisula
Di persimpangan Trisula
Aku seorang gadis
Datang bukan karna tidak berpunya
Bukan pula karna tiada berpinta
Di persimpangan Trisula
Kau berdiri, berlari, dan kadang diam saja
Aku membungkus penat rapat-rapat
Kau tersenyum simpul, memelas, menangis
Di persimpangan Trisula
Meski tidak bertahta
Raga, rasa, rintik hujan, panas
Adalah uang yang sebenarnya
Yang pada hakikatnya menghidupi kita
Memuaskan lapar dan haus para musafir ini
Di persimpangan Trisula
Aku meraup zam-zam, bahkan tuba, nila
Berpenda, lalu murka, musnah, mati
Tapi gemerincing masih terdengar
Ricuh, gaduh..
menguliti batinku,
Kau juga
Di persimpangan Trisula
Seorang lagi menyambut
Juga dengan kepalan kosong
Tapi di sekelilingnya
Angin bertiup, matahari berpijar, mega berjenjang
Melenamu, hanyut, dan hilang, lalu lupa.
Di persimpangan Trisula
Kau melebarkan lagi, kini duniamu
Berpendar, semilir, sempurna
Aku juga, bukan lagi
Kini, nanti, dan mungkin seterusnya
adalah sepasang sayap patah
yang gugur di musim hujan
bertebaran di trotoar
Menunggu untuk diasingkan kembali
oleh mata-mata mega di senja pagi
Kau,
Untukmu,
Dan demi entah siapa
Kembalikan aku
seperti saat pertama di persimpangan Trisula
00.55
08.08.10
Saat pertama di persimpangan Trisula
Di persimpangan Trisula
Aku seorang gadis
Datang bukan karna tidak berpunya
Bukan pula karna tiada berpinta
Di persimpangan Trisula
Kau berdiri, berlari, dan kadang diam saja
Aku membungkus penat rapat-rapat
Kau tersenyum simpul, memelas, menangis
Di persimpangan Trisula
Meski tidak bertahta
Raga, rasa, rintik hujan, panas
Adalah uang yang sebenarnya
Yang pada hakikatnya menghidupi kita
Memuaskan lapar dan haus para musafir ini
Di persimpangan Trisula
Aku meraup zam-zam, bahkan tuba, nila
Berpenda, lalu murka, musnah, mati
Tapi gemerincing masih terdengar
Ricuh, gaduh..
menguliti batinku,
Kau juga
Di persimpangan Trisula
Seorang lagi menyambut
Juga dengan kepalan kosong
Tapi di sekelilingnya
Angin bertiup, matahari berpijar, mega berjenjang
Melenamu, hanyut, dan hilang, lalu lupa.
Di persimpangan Trisula
Kau melebarkan lagi, kini duniamu
Berpendar, semilir, sempurna
Aku juga, bukan lagi
Kini, nanti, dan mungkin seterusnya
adalah sepasang sayap patah
yang gugur di musim hujan
bertebaran di trotoar
Menunggu untuk diasingkan kembali
oleh mata-mata mega di senja pagi
Kau,
Untukmu,
Dan demi entah siapa
Kembalikan aku
seperti saat pertama di persimpangan Trisula
00.55
08.08.10
Senin, 04 Oktober 2010
Aku Melarut
Aku bukan orang yang tegar
Aku juga akan menangis
Jika kau kuliti hatiku
Aku bukan orang yang kuat
Aku juga akan tumbang jika ombak
menghantam pendirianku..
Setiaku pada lelaki ini
Bukannya tidak berbatas
Meski tubuh penuh lumut
Dan penglihatanku mulai surut
Di tepian sungai inilah
Aku melarut
28.09.10
Aku juga akan menangis
Jika kau kuliti hatiku
Aku bukan orang yang kuat
Aku juga akan tumbang jika ombak
menghantam pendirianku..
Setiaku pada lelaki ini
Bukannya tidak berbatas
Meski tubuh penuh lumut
Dan penglihatanku mulai surut
Di tepian sungai inilah
Aku melarut
28.09.10
Untuk Lelaki ku
Cinta ini tumbuh
Sebagaimana kau hadir dalam hidupku
Mewarnai parasku dengan keceriaan
Mengisi lembar demi lembar buku harianku
yang tleh lama hampa oleh kata - kata
Kau menangis dalam kebahagiaanku
Kau menata hatiku dengan setes haru
Kita tergiur dalam angan untuk menjadi satu
Kita merajut mimpi itu
Denagn cinta... palsu
27.09.10
Langganan:
Postingan (Atom)