Rabu, 06 Oktober 2010

Erika, Di Persimpangan Trisula

Aku sebagai Erika
Saat pertama di persimpangan Trisula

Di persimpangan Trisula
Aku seorang gadis
Datang bukan karna tidak berpunya
Bukan pula karna tiada berpinta

Di persimpangan Trisula
Kau berdiri, berlari, dan kadang diam saja
Aku membungkus penat rapat-rapat
Kau tersenyum simpul, memelas, menangis

Di persimpangan Trisula
Meski tidak bertahta
Raga, rasa, rintik hujan, panas
Adalah uang yang sebenarnya
Yang pada hakikatnya menghidupi kita
Memuaskan lapar dan haus para musafir ini

Di persimpangan Trisula
Aku meraup zam-zam, bahkan tuba, nila
Berpenda, lalu murka, musnah, mati
Tapi gemerincing masih terdengar
Ricuh, gaduh..
menguliti batinku,
Kau juga

Di persimpangan Trisula
Seorang lagi menyambut
Juga dengan kepalan kosong
Tapi di sekelilingnya
Angin bertiup, matahari berpijar, mega berjenjang
Melenamu, hanyut, dan hilang, lalu lupa.

Di persimpangan Trisula
Kau melebarkan lagi, kini duniamu
Berpendar, semilir, sempurna
Aku juga, bukan lagi

Kini, nanti, dan mungkin seterusnya
adalah sepasang sayap patah
yang gugur di musim hujan
bertebaran di trotoar
Menunggu untuk diasingkan kembali
oleh mata-mata mega di senja pagi

Kau,
Untukmu,
Dan demi entah siapa
Kembalikan aku
seperti saat pertama di persimpangan Trisula


                                                             00.55
                                                          08.08.10
                                                             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar